Basket / Berita Olahraga / NBA

Kisah Pembuka Konflik Internal Bulls 1997-1998

Kisah Pembuka Konflik Internal Bulls 1997-1998 – Gw mengagumi Michael Jordan. Namun rasanya belum benar-benar menjadi fannya.

“Belum”, karena gw semakin ke sini semakin tertarik dengan kepribadiannya. Satu saat, rasanya akan tiba waktunya gw akan jadi fan Jordan.

Ketertarikan gw yang meningkat kepada persona Michael Jordan bukan karena hawa-hawa film dokumenter “The Last Dance” yang beberapa waktu lalu terus santer akan diputar dan saat ini sudah bisa dinikmati di (Indonesia lewat) Netflix. Bukan, bukan karena itu, tetapi karena hal lain.

Awal mula kesukaan gw terhadap NBA adalah karena Seattle Supersonics. Gary Payton dan Shawn Kemp. Hingga saat ini, gw masih belum bisa menambatkan hati ke salah satu tim NBA manapun seperti gw suka ke Sonics.

Barangkali ini salah satu penyebab kenapa gw belum bisa jadi fan Jordan. Apalagi kemudian di beberapa kepingan aksi-aksi Jordan yang menyebar di youtube,

gw seolah merasa Jordan adalah sosok pemain yang tidak masuk tipe selera gw. Kehebohan film dokumenter The Last Dance awalnya tidak terlalu mengganggu gw. Jelas. Gw bukan fan besar Michael Jordan.

Hingga beberapa hari sebelum dokumenter tersebut tayang, kutipan Michael Jordan di media, media sosial, dan di mana-manalah yang seolah-olah memberi gw tarikan gravitasi yang hebat untuk segera menyaksikannya.

Jordan kurang lebih mengatakan bahwa ia khawatir, setelah dokumentasi ini dibuka, orang-orang akan melihat dirinya dengan pandangan yang berbeda. Lebih ke arah negatif.

“Aha!” Ini yang gw tunggu. Gw butuh untuk menyaksikan The Last Dance ini. Hahahaaa (walau belakangan gw “ngeh” bahwa jangan-jangan pernyataan Jordan,

sebenarnya hanya semacam tipu-tipu strategi pemasaran agar orang-orang seperti gw yang awalnya gak pengen nonton, malah jadi niat banget. Hahahaaa).

Sebelum gw sedikit mengulas tentang dokumenter The Last Dance, gw ingin mengungkapkan kenapa beberapa waktu ke belakang gw semakin tertarik pada sosok Michael Jordan.

Baca Juga : Gelar GOAT bagi Alex Caruso

Adalah Alfred Adler. Seorang psikolog yang namanya harusnya sekaliber Sigmund Freud dan atau Carl Jung. Singkat cerita, dalam sebuah buku yang menceritakan tentang teori-teori psikologi Adler inilah yang membuat gw jadi ingin “lebih kenal” dengan Michael Jordan.

Teori psikologi Adler berputar pada masalah “inferiority complex” yang meliputi seseorang, entah karena pengalaman masa kecil atau lainnya, yang kemudian memicu pengembangan diri atau pribadi orang tersebut.

Termasuk tentunya relasi antarpersona manusia dengan manusia lainnya. Sebelum terlalu jauh, dan gw masih sangat awam tentang psikologi,

semoga kalimat tersebut tidak membuat kalian (pembaca) merasa bahwa gw menuduh Jordan punya semacam kompleks inferioritas (yang barangkali kemudian berkembang menjadi kompleks superioritas).

Film The Last Dance sendiri memunculkan dengan cukup gamblang hal-hal yang diteorikan oleh Alfred Adler. Ada cerita di dalam film tersebut yang dituturkan oleh James R. Jordan (ayah Michael Jordan) tentang bagaimana bibit-bibit kompetitif Michael Jordan sudah lahir saat ia masih anak-anak.

Kompetisi menghadapi saudara-saudara laki-lakinya boleh jadi menjadi salah satu pemicu. Termasuk pula pemicu-pemicu lain dalam perjalanan karirnya yang membuat Jordan semakin “panas”.

Hal penting lain dari film The Last Dance yang kemudian membawa gw kembali ke teori Adler adalah sosok Jerry Krause. Mendiang Krause adalah Manajer Umum (General Manager) Chicago Bulls dari tahun 1985 sampai 2003. Satu hal yang menurut gw cukup di luar dugaan adalah pentingnya sosok Krause dalam dokumenter ini.

Di episode pertama dan kedua The Last Dance, menurut gw, adalah cerita tentang persaingan Michael Jordan dan Jerry Krause. Selanjutnya, tentang psikologi Adler, silakan cari referensi lain, yak. Nama Adler akan berhenti tertulis sampai paragraf ini.

Judul film “The Last Dance” ternyata diambil dari “judul” yang disematkan Phil Jackson (Kepala Pelatih Bulls) sebelum musim 1997-1998 dimulai.

Phil Jackson memiliki kebiasaan memberi tema atau judul atas setiap musim kompetisi yang akan ia hadapi. “Tarian terakhir” adalah judul yang menggambarkan situasi Bulls saat itu. Situasi di mana kondisi tim Chicago Bulls mulai tidak menentu.

Kemungkinan besar, setelah musim tersebut, komposisi super Chicago Bulls akan berubah. Termasuk kemungkinan pindahnya Phil Jackson.

Pencetusnya, Jerry Krause. Sosok Jerry Krause muncul di awal film ini. Ibarat sebuah film aksi, gw menangkap sosok Jerry Krause langsung ditempatkan di posisi penjahat.

Antagonis. Beberapa aksi Jordan kepada Krause di beberapa adegan menunjukkan betapa Jordan tak bersimpati kepada Krause.

Baca Juga : Josh Green Pemain Australia Ingin Ikut NBA

Setelah memunculkan sosok Krause sebagai seorang antagonis, film The Last Dance berjalan seperti umumnya film dokumenter. Ia menampilkan cuplikan-cuplikan sejarah kemunculan Jordan dibumbui komentar-komentar beberapa orang yang terkait momen-momen tersebut.

Agak membosankan. Tapi untungnya ada beberapa potongan cerita yang rasanya belum pernah terungkap sebelumnya. Misalnya bagaimana Jordan mendapati hampir semua rekan timnya di Bulls berpesta narkoba ketika ia masih ruki.

Jordan menolak bergabung karena waswas bila saja polisi datang, maka ia akan ikut jadi tersangka karena ada di tempat yang salah. Sejak itulah, kata Jordan, ia mulai menjaga jarak dengan teman-teman setimnya di Bulls.

Selain sepenggal kisah itu, kilas balik bagaimana Jordan saat melepaskan tembakan terakhir di Final NCAA 1982 juga muncul.  Tidak ketinggalan proses Draft NBA 1984, meraih emas Olimpiade 1984, dan seterusnya.

Momen kecil menarik yang sebenarnya gak terlalu penting juga di episode pertama ini, adalah kemunculan salah satu “Mantan Warga Chicago” bernama Barack Obama yang mengaku masih miskin waktu Jordan sedang naik daun di kotanya.

Episode kedua masih menonjolkan Jerry Krause sebagai sosok antagonis. Namun lawannya kali ini bukanlah Jordan, melainkan Scottie Pippen. Episode kedua adalah tentang Pippen.

Scottie Pippen merasa kurang dihargai pada awal musim 1997-1998. Ini terkait besaran kontraknya yang terbilang sangat kecil untuk pemain sekaliber dirinya.

Pada awal musim tersebut, gaji Pippen ada di urutan 122 di antara semua pemain NBA. Padahal, sekali lagi, ia bisa dikatakan sebagai pemain terbaik kedua di NBA saat itu (setelah Jordan). Namun kekesalan Pippen juga ada kelemahannya.

Tujuh tahun sebelumnya ia menandatangani kontrak sebesar 18 juta dolar, yang kemudian terbilang kecil sekali ketika kontrak itu akan habis.

Alasan Pippen sepakat dengan kontrak itu memang mengharukan. Ketika itu, kondisi keluarga Pippen memang tengah terpuruk. Dalam film tersebut Pippen mendaku bahwa ia mengambil kontrak itu demi menyelamatkan perekonomian keluarga.

Ia tak berani mengambil risiko suatu saat dalam perjalanan karirnya mengalami cedera dan mengakibatkan keluarganya terlantar. Kekesalan Pippen ditambah lagi dengan kemungkinan bahwa ia akan dilepas dari Chicago Bulls oleh Krause.

Hingga dalam salah satu momen, Pippen mengatakan kepada wartawan bahwa ia sudah tak betah lagi ada di Bulls. Sebuah pernyataan yang kemudian oleh Jordan dikatakan sangat egois.

Salah satu momen kecil tapi menarik dan lucu tentang Pippen di episode kedua The Last Dance ini adalah ketika kerah bajunya diangkat oleh pemain senior Charles Oakley.

Dalam adegan tersebut terceritakan bagaimana Oakley tak suka pemain muda yang terlalu berlagak (Pippen). Walau kelihatannya bercanda, Charles Oakley sempat menampar Pippen. Sebuah penegasan senioritas! Hahaha.